Adalah Harimu,
Yang selalu
terbenak tanpa ucapku,
Namamu, Satu
Terus saja di
kala munajatku
Teruntuk dikau,
ibu, ibu, ibu.
Dalam
sekarangku
Tertera selalu
disegala rautmu
Tak ada
hentinya mendo’akanku
Di kesahmu,
senangmu, pun tangismu karena kelakuanku hingga memekikkan pilu
Sosok aku yang
tak pernah patuhi petuah saktimu, dulu
Kala jatuh, ku
serapahi diriku yang tak tahu malu
Kusesali apapun
sebab abaiku padamu
Hingga sirnakan
bongkahan angkuhku kala jatuh air matamu
Juga Allah
melalui kuasaNya menitipkan ridho padamu
Dalam
sekarangku,
Meski tak ada
kuasa untuk memelukmu, mengecup punggung tanganmu, tenang dalam dekapanmu
Izinkan aku
mengetuk surga itu
Maafku, tak
peduli jika semuanya hanya mengungkapkan kata itu dihari ibu
Janjiku untuk
selalu bercerita pada Ilahi setelah rawatibku
Rindu menduri
terus menusuk akan dekapan lembutmu
Jika tak lagi
di dunia ini bersamamu, menemuimu
Di surga sana,
yang berantahnya waktu itu
Lagi memelukmu,
itulah semogaku
Dalam
kerudung pilu, anakmu satu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar