Rabu, 15 Februari 2017

Story: Sparkle 1

Sparkle : I
Nama Pertama
Langit masih gelap dan sang surya masih enggan untuk keluar dari persembunyiannya. dan kala itu adalah dimana orang-orang juga masih enggan untuk bangkit dari kematian-sesaatnya. persis seperti yang kurasakan saat ini, didalam sebuah kendaraan darat besar bertuliskan Damri dietiap sisinya.Saat itu aku masih setengah sadar, aku masih belum tahu dimana dan mengapa aku disini. Dengan tarikan tangan yang kuat oleh Miftah dan suara kondektur yang meneriakkan dengan keras hingga membuatku terjaga bahwa kendaraan besar ini sudah tiba di kota tujuan. Metro, Kota Metro nama tempat ini. Kota dimana aku dan beberapa teman yang baru aku kenal didalam perjalanan walaupun kami tinggal di satu kota yang sama. Kecuali dua orang teman seperjuangan tapi dilain medan, yaitu Amriadi, Teman seperjuanganku ketika aku menimba ilmu di pondok pesantren Ihyaa Ussunnah, dan Miftahul Anhar, teman dan orang paling nekat yang pernah kukenal, kami berdua pernah mengirup keilmuan di pondok pesantren yang sama, akan tetapi Miftah meninggalkan pondok menuju SMA ketika aku pun meninggalkan pondok dan kota tempatku berada awalnya menuju kota hujan. Aku pun makin akrab dengannya ketika aku kembali ke kotaku dan kami pun menjadi seniman panggung berkelas, yaitu pesulap. Lebih kerennya kami dikenal dengan sebutan Magician.
  
Mataku masih remang-remang ketika pertama kali menginjakkan kaki di tanah Lampung ini. Mungkin karena pengaruh dari kapal Ferry yang kami tumpangi dan aku bahkan mereka juga mungkin tidak biasa dengan kapal walaupun tidak mabuk, tapi karena pengaruh terpaan angin malam selama dua jam dan itu adalah waktu dini hari sekitar pukul satu atau dua pagi. Dengan mata yang masih berat aku merasa bingung. Sepertinya ada yang aneh dengan kota ini. Kupaksa membuka mata lebar-lebar dan kuamati disekelilingku dataran kota ini. Mungkin kota ini letak geografisnya jauh dari pegunungan bahkan lautan. Kuamati juga teman-temanku ternyata mereka juga kelihatan masih lelah. Ustadz Ridho, seorang sarjana muda yang lulus dengan nilai Cumlaude. Beliaulah yang menuntun kami ke kota ini untuk menuntut dan menimba ilmu. Kau tahu sobat, ilmu itu tidak bersalah, maka kau tak perlu menuntutnya dan ilmu tidak ada didalam sumur maka kau tak perlu menimbanya. Begitulah ungkapan yang sering diucapkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab karena telah melecehkan sebuah ungkapan lain dari kata belajar. Kulihat ustad Ridho sedang menggenggam ponsel miliknya, mungkin menghubungi seseorang untuk menjemput dan membawa kami ke tempat dimana kami nanti akan mencicipi ilmu-ilmu baru yang ada di kampus. Ya, kampus. Kami kemari untuk melanjutkan pendidikan tingkat Perguruan Tinggi. Pun kami tidak sabar lagi ingin tahu bagaimana kampus kami nanti. Apakah sesuai dengan yang Aku dan Miftah gambarkan dalam bayangan?  Sepeti memiliki fasilitas lengkap, ruangan ber-AC, gedung kmpus yang luas dan megah, ruangan-ruangan laboraturium, menaiki gedung dengan menggunakan lift, dan serba moderen lainnya. Kami pun tak sabar lagi ingin cepat-cepat tiba disana.

Aku melihat dari kejauhan seseorang dengan sepeda motor dan mengenakan pakaian solat dan peci putihnya melaju dengan tenang sambil tersenyum-senyum melihat kami semua. Ia pun turun dari motornya dan menyapa kami dengan ramah .

“Assalamualaikum!” sapanya yang diiringi senyuman yang meraut diwajahnya dengan mata agak sipit sembari menjabat tangan-tangan kami dengan erat.
“wah, udah lama nunggu ya? Afwan ana nggak ngeliat hape tadi Ustadz. Subhanallah, ini dari Aceh semua ya? Oh iya, Saya Rohman, M Rohman”
“Saya Ibrahim” kata salah seorang dari rombongan kami yang mengenakan almamater dengan bertulislan “almufassabil Graduate of Misbahul Ulum”
“Saya Saifuddin”
“Saya Amriadi”
“Saya Mif-tah”
“Saya Suprianto”

Giliranku, “saya L, eh, maksudku saya Arrayyan. Muhammad Arrayyan” tukasku sambil menjabat tangannya yang masih diselimuti dingin pagi. Aku menghela napas panjang. Kuamati sekitar tempat ini, masih dalam kesunyian pagi. Udara sejuk menerpa wajahku dengan lembut. Kulirik Casio G-Shock hitam yang melingkar ditangan kiriku, pukul 5.45 pagi. Sesaat kemudian Ustadz Ridho pun menuntun kami menuju mushalla yang tidak jauh dari tempat dimana kami diturunkan untuk melaksanakan shalat subuh. 
Tak lama setelah shalat, Mas Rohman yang kerap kini dipanggil dengan inisial Mas Em karena Rahman adalah nama yang sangat berat buatnya. Entah apa maksudnya hingga sampai kapanpun tidak ada yang pernah menyinggung tentang namanya. Mas Em tiba dengan tiga teman seangkatannya yang masing-masing mengendarai sepeda motor guna untuk menjemput dan membawa kami ke taman ilmu yang sudah sangat membuatku penasaran. Hingga tiba ditempat itu aku masih bingung dimana gedung kampusnya? Yang aku lihat didepanku hanya sebuah gedung milik SDIT Almuhsin dan sebuah masjid disebelahnya.

“ayo, kita ke asrama saja dulu, istirahat. Pasti capek dong selama didalam bis.” Kata mas Saiful Umar, bujang lampung dengan bakat suara yang sangat tinggi dan merdu, dan kudengar bahwa iya kerap sudah memiliki lusinan piala, trophy atau penghargaan melalui MTQ. Ya, ia adalah sang jawara tahfidz MTQ.
”saya Saiful Umar, asli dari Kotabumi, Lampung Utara.” Tukasnya sambil tersenyum ramah dan menjabat tanganku kemudian meraih koperku untuk dibawakan olehnya.
“Anu, nama saya L mas” kataku.
“hah? siapa?”
“eh, anu mas, nama saya Arrayyan” tambahku demi membenarkan nama asliku dari keceplosan karena kebiasaan memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama L. jika dipikir memang sangat jauh sekali jatuhnya antara Arrayyan dengan L. paling jika nama panggilan bisa diambil dari awal nama atau akhir nama, seperti ray, atau yan, bahkan rayyan. Atau panggilan dari keluarga ibuku, Roy.
Bicara soal nama panggilanku, sobat. Sungguh, pasti tersirat sepucuk kisah dibalik untaian indah sebuah nama, karena nama adalah cerita. saat ini aku sudah menyimpulkan bahwa beda habitat yang aku tempati maka beda juga nama yang dipanggilkan untukku. Hingaa saat ini, aku sudah mengumpulkan seluruh namaku yang telah akrab dimulut orang-orang. Dimulai dari tempat kelahiranku, desa Kampung Jawa, Kota Lhokseumawe. Nama netral yang dipanggil oleh teman-temanku adalah Rayyan. Tetapi nama yang kemudian agak sedikit melenceng dari huruf vocalnya adalah; Roy, panggilan hangat dari pamanku ketika beliau masih bujang. Adik kandung ibuku ini sering memanggilku dengan Roy ketika menyuruhku membeli sebungkus rokok untuknya. Dia mengira dalam pikiran bujang dan mudanya Roy adalah nama yang keren atau gaul. Akan tetapi kakekku tidak senang mendengar jika ada yang memanggilku dengan Roy. Beliau lebih suka memanggilku dengan Muhammad, atau Rayyan. Namun sapaan Roy masih tetap saja hangat ditelingaku hingga seluruh saudara-saudari ibuku mengikutinya.

Menuju habitat selanjutnya yaitu taman pendidikan yang dimulai dari yang paling dasar. Tetapi sebelumnya ada satu hal yang bisa dibilang ini merupakan aib ataupun sebuah rahasia. Mengapa kukatakan aib, sobat, bicara tentang pendidikan dasarku yang sebenarnya aku tidak pernah mengenyam pendidikan dasar yang bernama Taman Kanak-kanak (TK). Tetapi yang terkadang hal ini kuanggap menjadi aib adalah sebuah kekurangan yang ketika itu disebutkan atau dijadikan sebuah ejekkan untukku hingga aku menjadi tidak bersyukur adalah perbedaan warna kulitku dengan warna kulit kedua orang tuaku. Betapa tidak, kedua orang tuaku memiliki warna kulit putih sedangkan aku berkulit hitam. Hitam manis sih, tapi jika berbeda dengan kedua orang tuaku kadang terasa aneh bagiku. Apalagi ketika saat aku masih dalam masa kanak-kanak, ketika sering diajak oleh orang tuaku menuju rumah teman-temannya atau ketika ada yang berkunjung ke tempatku. Kerap kali candaan-candaan yang dilontarkan sering membuat dadaku panas. Seperti candaan “waah, ini anaknya yang pertama ya, udah besar ya, “ tiba pada kalimat yang membuatku mendidih “tapi kok itam ya?” ada juga “anak siapa ini?” yang paling menjijikkan adalah “kau anak siapa? Ayah dan ibumu putih, ditambah adikmu juga putih, kau pasti anak yang diadopsi kan?”

Miris sekali, rasanya ingin kumasukkan pasir ke dalam mulut orang-orang yang mengatakan untukku seperti itu, bersyukur ketika aku mendengar ada orang yang mengatakan hal yang sama tapi dalam bahasa yang sangat indah ia mengatakan “kau mirip dengan kakekmu ya”. Gunung pun siap melontarkan panas lava dan magmanya jika ia melanjutkan kalimatnya seperti kalimat-kalimat orang yang tidak mengerti bagaimana perasaan seorang bocah sepertiku. Bagaimana jika terserang gangguan mental, atau psikologis yang membuat aku hilang semangat, terpuruk dalam sudut semesta kesunyian. Apalagi jika melihat orang-orang yang bahkan memiliki fisik yang sama persis dengan orang tuanya. Belum lagi jika aku melihat adikku yang baru saja lahir dengan kondisi warna yang tentu saja berbeda denganku. Pedih.

Lambat laun itu semua tergantikan ketika aku mulai dewasa. Ketika aku mulai mengerti hidupku yang dulu kadang membuatku hingga membuka akta kelahiran berkali kali, meyakinkan bahwa aku memang anak kandung. Ketika aku mulai memahami biologi bahwa ini semua karena faktor genetik yang diwariskan oleh kakekku melalui ibuku. Ketika aku semakin paham dengan keadaan sekitar, keadaan diamana tidak hanya aku yang merasakan hal ini. Ada beberapa orang yang merasakan hal yang sama, bahkan ada yang lebih parah. Ketika aku mulai mensyukuri karunia kehidupan dari Sang Maha Pecinta hamba-Nya. Ketika aku mulai menyadari bahwa segala sesuatu akan indah pada waktunya. Ketika aku tersadar bahwa betapa adilnya dunia ini. Kunikmati betapa berartinya kehidupan seseorang jika ia bisa menghadapinya dengan tabah dan bisa mengambil semua itu menjadi pelajaran penting baginya. Aku pun mulai senyum kepada dunia ini. Apalagi ketika ada yang mengatakan bahwa aku sangat mirip dengan ayahku, ada beberapa sifat yang kuwarisi darinya. Hingga suara ku juga sangat mirip, karakter, gaya berjalan, dan hampir semuanya. Semakin lebar senyum yang kupampang di wajah hitam ini.

Yang menjadi rahasia adalah aku mengenyam pendidikan dasar TPA di sebuah masjid terbesar di kota Lhokseumawe. Aku belajar a ba ta terlebih dahulu di taman pendidikan alquran ini dan ketika menginjak ke sekolah dasar aku sudah bisa membaca Alquran dengan baik. Aku mendapatkan pengajaran a b c dan 1 2 3 hanya dirumah dengan ibuku. Dan rasa syukurku yang tak pernah luput kepada Allah adalah Karena aku adalah anak pertama, maka waktu belajar yang dibeerikan untukku sangat banyak hingga akupun dengan mudah dan cepat dalam hal membaca dan menulis. Disekolah, aku tinggal meneruskannya saja. Dan ditempat inilah nama panggilanku berubah. Dan panggilannyapun kurang menyenangkan, yaitu ayam. Panggilan hewan ternak yang sangat berjasa di waktu subuh ini kerap dimulai ketika aku dan teman-teman kecilku sedang makan pada jam istirahat. Satu per satu darikami mengeluarkan bekal yang dibawakan dari rumah. Kami saling bertanya satu sama lain tentang lauk dan apa yang dibawa teman-temannya. Kami pun mulai membuka Tupperware kami masing masing.

“wuih nasi goreng nih, trus kau cuma nasi putih dan telur dadar dengan sedikit sambel serta kecap.” Kataku sambil melirik bekal makan temanku.
“memang kau bawa apa Arrayyan?” Tanya mereka penasaran. Kubuka Tupperware milikku yang bertuliskan nama lengkapku pada bagian atas tutupnya. Dengan semangat empat lima yang berkobar kuteriakkan dengan keras “AKU AYAAAAAAAAAM” sejurus kemudian kelas yang mulanya gaduh bagaikan pasar tiba-tiba hening sejenak sambil semua mata menuju ke arahku. Lalu seorang bocah yang nantinya kupanggil dengan sesama ternak yaitu Bebek, bangkit sambil menunjukkan jarinya kearahku dan dan berteriak juga dengan keras.”DIA AYAAAAAM, NAMANYA AYAM” seisi kelas pun mentertawaiku sambil meneriakkan hewan yang sama, “ayaaam ayaaam, haaahaha ayaaam”. Spontan aku menjadi bengong dalam bingung. Heran dengan teriakan-teriakan aneh itu. Dalam benakku kukatakan “ah, bodoh amat, ayam goreng ini nikmat sekali” kulahap tanpa memperdulikan sekitar. Hingga panggilan ini berlangsung hingga enam tahun di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Kutablang ini. Panggilan demi panggilan dengan hewan ternak pun menjadi tren dikelasku. Karena aku tidak mau kalah dengan panggilan ayam, maka akupun memanggil mereka dengan nama hewan pula, mulai dari bebek, kucing, kambing, kerbau, hingga ada gorilla juga, kelasku bisa jadi kebun binatang, sometimes.

Senin, 13 Februari 2017

Story: Sparkle : III

Nightmare?
   Padahal bibir ini telah kubasahi dengan dzikir sebelumku terlelap. Berharap Ilahi menjaga tidurku dari gangguan. Namun ia hadir kedalam mimpiku. Orang yang sering menjutakan imajinasiku dalam semesta pikiran. Dengan keindahan yang sering kupahat melalui kata-kata di atas lembaran-lembaran hampa. Namun Senyumnya yang merekah lembut itu mendekat. Meraih tanganku untuk bersanding bersamanya. Di bawah siraman cahaya rembulan yang dikecup gemintang, dengannya aku bercengkrama ria, mesra. pun ia merebahkan kepalanya di pundakku.
    Aku terjaga. Gelisah merekah hati, mencengkram perasaan. Aku gundah, bingung, keringat yang membasahi kening ini kuusap. Kuberanjak untuk mensucikan diri dengan berwdhu dan kulanjutkan dengan mengecup bumi dalam sujud shalat malam..
Ini pasti mimpi. Pasti iblis telah menjebakku dengan menjelma dalam tidurku. Kembali ku munajatkan perlindungan kepada Ilahi Rabbi. Tapi ia kembali hadir dalam lelapnya mimpi ini. Tapi apa mungkin ia adalah sosok jelmaan iblis. Aku yakin bahwa Allah telah menjaga tidurku melalui doa dan dzikir yang diajarkan Nabi.
   Tapi sosok indah dengan pakaian serba merah itu muncul lagi. Melalui senyum lembutnya ia berpesan agar aku segera menjemputnya, bersanding mesra hingga uban-uban menua. Dan berharap kembali bahagia di Jannah ilahi disana. Nanti.
  Saat-saat dimana aku sering terhempas karenanya adalah ketika mata ini tak sengaja memperhatikan, adalah ketika ia mengenakan pakaian serba merahnya, menyelimuti tubuhnya secara menyeluruh. tak berlekuk. Seakan ia masuk ke semesta pikiranku. Ia menari, berlari ria dengan senyum indah yang melekat lembut di wajah manisnya. Mengitari damainya semesta pikiranku yang tenang, seperti teduhnya malam yang dihiasi gemintang dan siraman cahaya rembulan. Kembali ia merekah senyumnya. aku terpaku, bertekuk lutut dalam pengaguman keindahannya.
    Annisa H. Slaneva, sebuah nama yang terpahat lembut bagai senyumnya saat ia mengucapkan jazakallahu khairan . Kerap kutahu namanya saat secara tak sengaja sebuah kartu tanda pengenalnya tercecer dari sebuah tas yang ia rangkul. Aku memungutnya dan bergegas kuu kejar ia yang sedari tadi tidak sadar hampir menghilang di penglihatan.
   
     “excuse me! Hey” kataku setengah berteriak sambil berlari mengejarnya.
   Ia menoleh dan BUMM!! Sesuatu terjadi saat ia toleh pandangannya kearahku yang sedang mencoba mengatur nafasku yang berhenti sejenak. Bukan slow motion lagi, tetapi stop motion.
    “ng?”  
    “Annisa H. Slaneva, right?”
    “yah, sure.” Jawabnya dengan sedikit penasaran.
    “I think you just droping this” sembari kusodorkan ktp nya.
    “Its yours?”
    “Masya Allah, sure, its mine. Thank you. But, bagaimana kau yakin ini punyaku?”
    “Aku melihat saat kau berjalan menuju gerbang, ketika kau mengambil sesuatu dari dalam tasmu, dan ktp ini terjatuh.” Paparku sambil berusaha sekuat tenaga agar tidak salah tingkah atau bahkan bertingkah aneh. Keep calm and stay cool. Walau tatapan dinginnya membekukan serta hamper membuatku menggigil karena gugup.
    “Ooh, begitu. Oke, over all  Jazakallahu khairan .” Haturnya dengan senyum nan lembut sambil memasukkan kembali tas selempang mungil yang memeluk bahunya. Senyum menawan yang membuatku kaku bisa disimbolkan dengan karakter seperti ini (^_^). Terhempas lagi, aku.
    Kembali aku memikirkannya, raut wajah, dan nama yang ia sandang. Annisa H. Slaneva. Seperti nama asing, atau nama orang eropa, atau nama orang Rusia. Apakah dia berdarah campuran? Sepintas dari raut wajah yang kuperhatikan, tidak ada ciri khusus. Seperti warna bola mata yang kebiruan atau hidung yang mancung atau postur tubuh yang lebih tinggi. Tapi sepertinya tidak.. Ia  layaknya gadis di Indonesia kebanyakan. Berwajah bulat dan berhidung biasa dan juga postur tubuh yang biasa.
   Selama setahun hidup dalam rantauan di Tanah Siger ini, ada beberapa hal baru yang sedang kupelajari. Seperti ilmu psikologi sederhana tentang bahasa tubuh seseorang, ekspresi, raut wajah, hal ini kudapati dari saat aku mendalami seni sulap. Pun juga kupelajari berdeduksi, ilmu baru yang kudapat melalui tokoh fiktif Sherlock Holmes. Melalui novel tentunya. Walaupun aku tidak menghadapi kasus pembunuhan atau sebagai seorang detektif, ini kupelajari hanya untuk mendalami karakter seseorang, sifat dan wataknya, respon dari candaan, berbicara, tertawa, mengejek, diejek, atau saat keseharian lain dalam kehidupan.
   Kucoba berdeduksi dari raut wajahnya saat setelah ia mendengar penjelasanku bagaimana aku tahu kalau itu kepunyaannya, ia menjawab dengan kalimat ‘Ooh begitu’. sepertinya ada kalimat lain didalam nya. Kemungkinan besar : “Ooh begitu, ternyata kau yang sering memperhatikanku?”. Atau, “Ooh begitu. Kau mau modus dengan kesempatan ini?”

   Atau mungkin seperti, … ah tidak! Ada apa denganku? Kenapa aku memikirkannya sampai sejauh  ini? Apa yang membuatku hingga terbangun dari lelapku, pun ia hadir di mimpiku. Mungkinkah ini … tidak, tidak. Aku tidak mau jatuh cinta semudah ini. Ini bukan cinta. Aku sudah berkali-kali bertahan dari gelombang godaan seperti ini. Dan aku tidak mau hal-hal serupa. walau kali ini berbeda, ini lebih murni, tanpa dusta, tanpa reka, tanpa terka. Ini suci dan lahir dari batinku sendiri.  
   
    Tak pantas ini kusebut cinta, karena memang ini bukanlah cerita cinta atau tentang ungkapan apa yang hati rasa. Layaknya cerita-cerita basi yang marak bergema. Tapi ini cerita suka, ceita duka, cerita hina, tangis dan tawa, senyuman dan jeritan, segala aspek kehidupan yang ilahi cipta, bukan apa yang manusia reka.
                                                                                 --oOo—
    Terkadang hidup ini bisa dianggap sebuah film dan kita adalah sang aktornya.  Tuhan sebagai sutradara yang mengatur setiap segmen dan segala adegan. Melalui scenario yang telah diciptakanNya dengan sempurna. Demi menggapai sebuah tujuan untuk bisa menjadikan film yang bisa menggema di segala indera pemirsa, maka actor haruslah mengikuti setiap adegan yang ada pada scenario yang telah dibuat oleh sang sutradara. Jika tidak maka kacaulah sebuah film itu.
   
    Begitu juga hidup ini. Allah telah menentukan takdir kisah hidup seorang manusia yang telah diciptakanNya. Melalui takdir yang disebut scenario inilah manusia menjalaninya. Tapi terkadang mansia melupakan scenario itu. Bahkan membelakangi sang sutradara. Seolah mencoba berimprovisasi, berakting dengan sesuka hati. Tanpa peduli dengan resiko dari meninggalkan scenario dan sutradara.
    Skenario yang sering ditinggalkan saat ini adalah AlQuran. Ini dianggap tidak rasional, tidak logis, tidak masuk akal. Padahal tidak ada kitab suci yang menuliskan secara rinci tentang kehidupan yang ada di alam jagat raya ini. Tentang penciptaan manusia, bumi, tata surya, langit dan semuanya telah jelas dan detil disebutkan didalamnya empat belas abad yang lalu, dimana tekhnologi pada saat itu belum bisa menjangkaunya

    Tetapi umat mslim pada saat itu memiliki sebuah visi yang tidak dapat dilihat atau dijangkau oleh indera. Gila. Memang inilah sebutan orang-orang yang tidak percaya dari apa yang disebutkan. Sebutan ini juga seing dilontarkan kepada Rasulullah saw. Oleh orang-oang yang membencinya. Hingga pada akirnya kenyataanya terbalik benarlah semua apa yang dituliskan dalam AlQuran empat belas abad yang lau dibuktukan dengan teknologi masa kini yang super cangih.

Poem: The Forth


hari-mu.



Rehatnya sekarangku
Damai pun syahdu tanpa lagi gigitan pilu
Enyahkan saja kutu-kutu pengganggu
Tapi sesuatu, terus menghantam benakku

Tersirat di hamparan lubukku
Akan hangatnya dekapan itu, belaian itu, kecupan itu
Penumpas segala semesta pilu
Terukir jelas wajah lembut itu

Astaghfirullah batinku
Sosok utama penyedia segala ada menjadi abai di sekarangku
Nama yang seharusnya terlisankan kala setiap rawatibku
Petuah-petuah jitu, pemompa semangatku, membatu kaku direlungku

Namun kini bumi merampasnya dariku
Padahal hangatnya harumnya dekapan yang lebih kokoh dari apapun masih terus menjadi inginku
Bisakah aku mengetuk surga itu?
Ridhokah dia padaku? Termaafkah semesta salahku?

Allahku,
Ampunkan aku, ampunkan sosok penyejuk qalbu itu
Pertemukanyalah denganku , di hari yang penuh dengan kuasamu
Bukan sesiapa aku tanpa belaian hangat itu

Patutnya rasulMu menganjurkanku,
Pun setiap insan yang keluar dari rahim itu
Agar memohonkan ampun untuk bidadari itu
Ibu, ibu, ibu


                                                                                                      Oktober, kala derasnya hujan Jakarta.

Poem: The Third

Cinta, Ini-sialnya.

Kuutarakan sesuatu yang biasa terhirup
Kadangkala, biasanya sesuatu itu sering kali buat jantung kencang berdegup
Menjadikan apapun menjadi benderang atau meredup
Menghinakan, pun memuliakan sesiapa yang dikecup

Cinta inisialnya
Bangsa keturunan dari kerajaan hati asalnya
Ia juga sepertinya sedarah dengan rindu namanya
Penghasil dopamin-dopamin ekstra membuat sesiapa Gembira terbuainya

Cinta sangat sensitif perangainya
Walau ceria bersamanya, Benci selalu ingin memakannya
Karena benci adalah teman nafsu namanya
Pun cinta, adalah sasaran yang mudah dilahapnya

Hati-hatilah dengan cinta
Jangan mudah menjatuhkan ia
Jaga, doa, pada sang pemilik cinta

Berikan padaNya cinta, maka terpeluklah dalam kasihNya, dan kekasih dengan cinta dari sang Pemilik cinta azza wa jalla


Februari, kala hingar-bingarnya Bekasi.

Story: Sparkle 2

Sparkle : II
Kemana ia?
   “Yaah, gerbangnya udah ditutup” keluhku ketika melihat seorang ibu guru menggerakkan gerbang untuk menutupnya. Anak-anak lainnya berlarian berburu masuk kedalam kastil pendidikan dasar yang bertaraf agama. Madrasah Ibtidaiyah Negeri Kuta Blang, Lhokseumawe. Begitu nama yang terpampang di prasati modern di sebelah gerbang hitam yang telah tertutup rapat. Dijaga ketat oleh guru yang bertugas hari ini, selasa. Ia berdiri dengan gagah dan tatapan bengis. Dilengkapi dengan senyuman terbalik yang dihiasi lipstick merah yang sangat terang spesialnya. Gawat!! Ibu Ruhmi, ibu Ruhmi hari ini yang bertugas piket. Dia lah yang sedang berdiri didepan gerbang dan mengatur barisan anak-anak terlambat yang mulai berdatangan.
   Aku turun dari kendaraan ayahku setelah kuciumi punggung tangannya dan menerima uang saku. Kuayunkan kaki dengan pelan saja, karena aku sudah tahu kalau aku terlambat. Gebang juga tidak akan terbuka jika aku berlari sekencang kuda. Gerbang juga tidak akan berlari jika kukejar. Aku melangkah dengan santai sampai teriakan keluar dari kerongkongan ibu Ruhmi dengan keras.
  “Hey hey,cepat cepat CEPAAAAAATT!!! Udah tau telat, malah jalan pelan lagi!! Sini baris!!” Omelnya sembari mencengkeram tas yang sedang erat memeluk bahuku. Aku hampir terpungkal. Kutatapi lagi raut wajahnya yang sedang mengalir darah militer. Suram. Aku dan anak-anak terlambat lainnya sedang menanti bergesernya gerbang hitam ini agar bisa memasukinya. Karena keterlambatan, kami hanya bisa terlebih dulu menatapi mereka yang berbaris dan masuk kekelas hingga halaman sekolah berbatako merah dan yang terukir garis untuk lapangan badminton itu senyap dan harus meratapi vonis hukuman oleh ibu Ruhmi. Tidak perlu tegang Sobat, hukumannya hanya membersihkan sampah yang tersisa, seperti serpihan kecil bungkusan permen yang harus menggunakan gigi seri untuk membukanya. Sekecil itu. Aku sering menyebutnya sampah mikro karena ukurannya yang terlalu mini untuk bisa diangkut dengan jari. Jika kau tidak mendapati sebutir sampah sekecil apapun itu maka, kau tidak akan diizinkan masuk kelas.
   Setelah aku dan para personil terlambat lainnya mengunduh sampah-sampah mikro itu, kami harus menemui Ibu Ruhmi yang sedang duduk dibangku panjang yang ada disebelah pintu kelas IV B. Ibu Ruhmi duduk dengan mengayunkan sebuah pena berwarna merah diatas buku besar double-folio yang berwarna merah pula. Beliau mencatat kami para murid yang terlambat dengan menanyakan nama, kelas, dan alasan mengapa kami terlambat. Satu persatu dari kami diinterogasi kecil dan aku, adalah langganannya. Jika sobat melihat buku itu dan muncul namaku, aku selalu mengatakan pada Bu Ruhmi alasan keterlambatan yang sama dan basi. Mules atau kebelet atau sakit perut. Tentu dengan sinonim yang berbeda. Walau aku menjadi langganannya, beliau tetap bertanya dan menulis nama-nama kami tanpa menatapi wajah-wajah imut kami yang mulai bepeluh keringat.
   Setelah interogasi pun kami langsung menuju kelas yang sedang berdering dengan suara murid-murid yang sedang membaca do’a sebelum pelajaran berlangsung. Diawali dengan melantunkan ayat suci surat pendek yang terdapat dalam juz 30 dari Alquran yang dipimpin oleh seseorang didepan kelas. Ia melantunkan suaranya yang nyaring -jika suaranya nyaring- dengan tenang, ayat demi ayat kemudian diikuti oleh murid lainnya.
   Kuayunkan langkahku dengan sedikit cepat sambil menenteng sebuah keranjang sampah menuju sebuah ruangan yang dihalangi oleh sebuah pintu berwarna coklat gelap dan tergantung disudutnya dua lembar papan kecil yang dihubungkan dengan rantai dan bertuliskan KELAS V B dan KELAS II B. kelas yang digunakan 2 kali dalam sehari. Pada pagi hari kelas ini dihuni oleh kelas lima dan pada petang hari dihuni oleh kelas dua. Hampir setiap kelas menjadi dwifungsi, karena komplek sekolah yang tidak begitu luas tetapi murid yang semakin melonjak setiap tahun. Angkatan tahunku ketika awal kelas satu mencapai hingga 5 kelas, yaitu A, B, C, D, hingga E. karena keterbatasan kelas dan sekolah masih dalam masa pembangunan, pihak sekolah akhirnya memutuskan untuk meminjam sekolah tetangga yang ada dihadapan sekolah kami. SDN 11.
 Setibanya dihadapan pintu kelasku, kuputar gagang pintu sambil kulontarkan salam kedalam kelas dengan suara pelan, hampir tidak didengar. Ibu Rohamah, wali kelasku yang juga ramah seperi namanya sedang berdiri tidak jauh dari pintu, hanya beliau yang menjawab. Karena yang lain masih dalam lantunan ayat suci Alquran. Ketika kulangkahkan kaki  yang ke dua kedalam kelas yang agak remang, sekitar lima puluh delapan pasang bola mata menatapku. Aku tersentak, gugup. Kemudian kuletakkan keranjang sampah berwarna hijau kumuh diatas serokan merah dengan gagang yang hampir punah di sebelah sapu yang berada disebelah pintu kelas. Pun aku menuju ibu guru untuk kutuah punggung tangannya, dan tanpa basa-basi lagi langsung menuju mejaku yang berada di urutan paling belakang. Kudaratkan tubuhku diatas kursi dan menghela napas panjang. Pfiiuuuh, lumayan lelah untuk pagi ini.
 Dayat, teman semejaku, yang telah tiba lebih dulu dariku sedari tadi. Terkekeh ia ketika melihatku lalu menyalurkan dan membuka telapak tangannya. Ia mengajak toss, kusambut  tossnya dengan senyum tanpa menanyakan alasan padanya. Apa yang ada didalam kepala anak yang menyandang nama asli Hidayatullah ini. Perlu kusampaikan sobat, setiap kawanku pasti memiliki sisi keanehan yang nyaris hampir abnormal. Dayat, salah satu keanehannya adalah ia sering menyanyikan lagu “God is a Girl”-nya Avril Lavigne, tetapi yang remix atau full house. Yang biasa diputar dengan volume akhir di angkutan-angkutan umum yang berinisial “labi-labi”. Tentu saja ia menyanyikannya lengkap dengan suara DJ dan music remixnya. Bukan beatbox yang ia dendangkan, lebih tepatnya mulutnya seperti pemutar rekaman yang sudah lama tidak diganti batu baterainya. Meskipun begitu ia tetap teman tinggiku dikelas V b ini.
 Aku duduk bersamanya di bangku paling belakang karena peraturan yang berlaku ialah yang paling tinggi maka ia yang paling akhir harus menempati kursinya. Tetapi aku sempat berfikir dalam kelas ini ada suatu ketidak adilan dalam penempatan posisi tempat duduk. Aku merasa ada yang lebih tinggi dariku. Abdil Ridha, buah hati Ibu kepala sekolah, sering kali kubandingkan tinggiku dengannya, kutaksir selisihnya sekitar tujuh atau delapan senti meter. Tetapi ia duduk ditengah sedangkan aku ada di paling belakang. Ini tidak adil menurutku. Ada beberapa kemungkinan yang terlintas dalam benakku. Pertama, karena ia anak kepala sekolah. Kedua, ia anak kepala sekolah. Ketiga, ia adalah anak kepala sekolah. Jadi tidak ada hak bagiku untuk memprotesnya pada wali kelasku. Hingga harus meneriakkan “bu, bu, ini tidak adil. Mentang-mentang Abdil anak kepala sekolah dia nggak boleh duduk dibelakang? Padahaldia lebih tinggi dari saya bu!!”. Sangat tidak sopan menurutku. Toh indera pendengar kita juga masih dalam fungsi dan keadaan yang sama. Kita bisa menyantap pelajaran dengan keadaan sama. Aku hanya tidak bisa menerima karena oh, ini masalah kulit kawan. Warna kulit. Dengan radiasi yang sangat minim atau bisa disebut remang, aku akan terlihat aneh jika duduk di belakang. Yang terlihat hanya beju putih dan bola mataku saja, kemudian gigiku ketika senyumku melebar. Karena oh tidak, lagi-lagi. Karena kulitku gelap. Betapa tidak, cahaya yang redup dan posisi tempat dudukku yang ada diurutan paling belakang. Namun kemudian kusimpulkan saja dalam pasrah, terserah pada Tuhan Yang Maha Mengetahui sajalah.
 -oOo-
 Dalam kehidupan, manusia berusaha melakukan kebenaran dan mengharapkan balasan kebaikan. Tetapi kadangkala ketika telah bersusah payah melakukan kebaikan malah keburukan bahkan kehinaan menerpa diri. Hal ini pernah dialami oleh teman ku yang menyandang salah satu nama Islami yang populer, Nurul. Saat itu adalah pergantian jam pelajaran ketika kelas masih dalam penantian guru selanjutnya, tiba-tiba saja pintu terbuka dengan cepat. Kami menyaksikan seorang ibu berbadan agak gempal, bermata seperti sedang silau terkena cahaya, padahal kelasku remang. Dan yang paling special darinya yaitu lipstick merahnya yang menghiasi bibirnya.Ibu Ruhmi, itu ibu Ruhmi. Ia masuk dengan menggenggam penggaris kayu inventaris sekolah yang berwarna kuning. Ketika ia masuk, imajinasiku bermain agak berlebihan. Ia masuk seperti menendang pintu. Gubraaak!! Ia masuk sambil rolling dengan senjatanya. Dan penggaris kayu itu seolah adalah sebuah senapan mesin. Gawat! Ini adalah era konflik RI dengan GAM. Siapa perwira ini, dari battalion mana? Apakah dikelasku ada mata-mata ataukah musuhnya?
“SIAPA PIKET HARI INI? SIAPA?” teriaknya lantang layaknya komandan.
“CEPAT CEPAT KELUAR!! BERSIHIN ITU SAMPAH YANG ADA DIDEPAN KELAS”. Makin besar suaranya, ia berteriak sambil menembakkan ke atas.
            Kemudian dengan kesal ia menenyakan siapa yang piket pada hari selasa ini sambil masuk ke barisan meja dan mendarat persis dimeja Nurul yang sedang berdiri karena ia yang bertugas piket hari ini. Ia berdiri dengan lunglai, terakhir baru kuketahui kalau ia sedang dalam keadaan sakit hari ini.
            “KAMU YANG PIKET HARI INI? HAH?” Tanya Bu Ruhmi. Nurul mengangguk pelan.
            “KAMU TIDAK DENGAR BARUSAN? IBU SURUH KELUAR?” suaranya panas. Belum sempat Nurul melangkah, sebuah ayunan keras dari penggaris kuning pun mendarat di punggungnya. PLAAAKK!! Nurul tak berbunyi, ia langsung melangkah keluar kelas dengan air mata yang mulai membasahi wajahnya. Hampir semua dari mereka yang piket pada hari ini ditebas oleh Bu Ruhmi. Kecuali ada satu orang yang kerap kuketahu kalau ia adalah someone specialnya Bu Ruhmi. Ridwan namanya, murid yang antah-berantah mengapa dispecialkan oleh beliau. ia tidak pintar, tidak juga mengidap penyakit parah, atau berkebutuhan khusus. Ia juga normal seperti murid lainnya. Tetapi hampir selalu kami temukan kalau ia seperti dilindungi oleh ibu Ruhmi. Apakah ia anaknya komandan ibu Ruhmi?
            Setahun berselang, banyak yang berubah. Seperti kelas yang telah memisahkan antara murid laki-laki dengan murid perempuan. Dan ada hal yang penting yang juga berubah dalam insiden tahun lalu yaitu ibu Ruhmi dan Nurul Ulia. Saat upacara Bendera, kuamati para Guru satu persatu dari wajah mereka, tidak kutemukan. Semakin hari juga tidak kutemukan. Pun Nurul Ulia. Kemana ia?

Poem: The Second


Beast mode: ON!

Kuutarakan sebenarnya
Hampir saja kulindas betisnya
Berlagak seolah ia Miss Indonesia,
Padahal hanya Miss dunia yang salah dipanggil namanya


Pun pria disebelahnya,
Tertawa dengan taring palsu agar seperti ganteng-ganteng serigala
Padahal, kera lebih mirip dengan wajahnya
Hanya ekornya saja yang diselipkan disakunya


Kawanan disekitarku juga,
Lapar saja yang ada dibenaknya
Kuhempaskan saja laptopku yang mati tiba-tiba ke mukanya
Hhaaaaaargh, ada ada saja, kenapa harus muncul lagi wajahnya?


Semuanya menjadi aneh pada dasarnya
Frekuensi tidak lagi melengkung gelombangnya
Karena diseruput oleh hidung pria itu ujungnya
Pergi saja, terjal semuanya, aku bukann gila, otakku berlebihn muatan hal-hal tak berguna


Alunan-alunan sendu menjadi alay suaranya
Poni sang penyani menutupi wajah hingga melilit lehernya
Menghitam kulitnnya, cempreng suaranya
Haaarrgh, istighfar, istighfar, itu yang kubutuh sebenarnya.


Desember, Kala teriknya Jakarta 2015

Poem: The First

Adalah Harimu

Yang selalu terbenak tanpa ucapku,
Namamu, Satu
Terus saja di kala munajatku
Teruntuk dikau, ibu, ibu, ibu.

Dalam sekarangku
Tertera selalu disegala rautmu
Tak ada hentinya mendo’akanku
Di kesahmu, senangmu, pun tangismu karena kelakuanku hingga memekikkan pilu
Sosok aku yang tak pernah patuhi petuah saktimu, dulu
Kala jatuh, ku serapahi diriku yang tak tahu malu
Kusesali apapun sebab abaiku padamu
Hingga sirnakan bongkahan angkuhku kala jatuh air matamu
Juga Allah melalui kuasaNya menitipkan ridho padamu

Dalam sekarangku,
Meski tak ada kuasa untuk memelukmu, mengecup punggung tanganmu, tenang dalam dekapanmu
Izinkan aku mengetuk surga itu
Maafku, tak peduli jika semuanya hanya mengungkapkan kata itu dihari ibu
Janjiku untuk selalu bercerita pada Ilahi setelah rawatibku
Rindu menduri terus menusuk akan dekapan lembutmu
Jika tak lagi di dunia ini bersamamu, menemuimu
Di surga sana, yang berantahnya waktu itu
Lagi memelukmu, itulah semogaku

Dalam kerudung pilu, anakmu satu.